Catatan Sehari Hari

Halo semua, nama saya Michael Christopher Manullang, dan saya adalah penulis blog ini. Jika anda tidak tahu, saya adalah seorang mahasiswa UI dengan jurusan Ilmu Komputer. Dalam blog post perdana saya untuk blog ini, saya ingin menjelaskan mengapa saya ingin menulis di blog ini.

Let me introduce myself. My name is Michael Christopher Manullang, and I am the writer of this blog. I am currently a Universitas Indonesia undergraduate student majoring in computer science, and I want to let you all know, in this first blog post, the reason why I decided to create, and write on this blog.

Tetapi sebelum saya melakukan hal itu, saya ingin terlebih dahulu memberitahukan sesuatu tentang saya. Saya tidak terlalu bisa menggunakan bahasa Inggris. Saya tidak bisa berbicara secara fasih menggunakan bahasa tersebut dan saya tidak bisa menulis dalam bahasa Inggris dengan baik. Mungkin anda berpikir bahwa itu tidak apa-apa, dan mungkin anda benar. Tetapi, saya tidak mampu menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik pula, dan saya memiliki alasan yang baik untuk hal itu.

But before I do that, let me tell you something about me(?). I am not good at using the English language. I can’t speak English very well and I can’t write well with it. You may think that’s fine, since English is not my mother tongue, and you may be right. But the thing is, I am also not good at using my mother tongue as well, and I have a perfectly good reason for that.

Dulu, saya sempat bersekolah di sekolah yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama untuk berbicara, dan untuk menulis(?). Saya masih menggunakan bahasa di beberapa kelas (Bahasa Indonesia dan PPKN), tetapi bahasa Inggris merupakan bahasa yang paling sering dipakai di sekolah itu.

You see, I used to attend a school that uses English as the main language for both speaking, and writing. I still used Bahasa in some classes (Bahasa Indonesia, and PPKN) but English is the language that is used the most(?).

Oleh karena itu, otak saya pada saat itu hanya bisa berpikir dalam bahasa inggris, dan pada saat saya lulus dan keluar dari sekolah itu, saya menjadi bingung karena di sekolah baru saya (Kanisius) semuanya diajarkan dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu saya menjadi pelajar yang lambat untuk belajar dan mengerti segala hal yang diajarkan, yang membuat nilai saya dalam yang saya katakan sebagai keempat subjek penting menjadi sangat buruk.

Because of this, my brain can only comprehend things in English, and when I did not continue attending that school (I got out at high school), I was confused because in my new school(?) (Kanisius), everything was taught in Indonesian. Because of this I was slow to learn everything, which makes my scores for the “four main subjects” as I’d like to call it (Math, Biology, Chemistry and Physics) really bad(?).

Jadi, bagaimana saya dapat lolos tes masuk (UI), jika saya secara konsisten mendapatkan nilai yang rendah di keempat subjek penting tersebut? Jawaban pendeknya adalah, saya beruntung. Jawaban panjangnya adalah, saya mengikuti bimbingan belajar, sebisa mungkin memasukkan segala hal yang saya bisa masukkan ke dalam otak saya dan menjawab segala hal yang saya bisa jawab (dalam tes tersebut), yang jumlahnya tidak banyak, dan ternyata, hal itu cukup bagi saya untuk lolos tes masuk tersebut.

Then how did I pass the entrance exams, if I have really low scores in those four main subjects? The short answer is, I was lucky. The long answer is, I went to cram school, crammed as many things as I can and answered the questions that I can answer, which was not a lot, and to my surprise, that was enough for me to pass the entrance exams.

Tetapi karena saya beruntung, saya merasa bahwa saya curang(?), karena dengan kemampuan saya yang kurang baik di keempat subjek penting itu, ditambah dengan bahasa Indonesia, saya seharusnya tidak lolos tes tersebut. Ini serius, saya seharusnya tidak lolos, dan ini terbukti ketika saya melakukan presentasi dan gagal secara terus menerus di kelas MPKTB. Di kelas itu, kita harus membaca tentang hal yang kita harus ketahui terlebih dahulu agar anda bisa menyelesaikan permasalahan yang kita harus selesaikan setelah membaca hal tersebut lebih baik.

But since I was lucky, I feel like I cheated in life, because with my poor skills in those four subjects, plus Bahasa Indonesia, I should not have passed the exams. Really, I shouldn’t, and this is proven when I tried to do a presentation and failed multiple times in MPKTB (that’s short for something but I forgot what it is). In that class, you’re supposed to first read about the things you need to know so that you can answer the problems that you need to solve after you’ve read those things better.

Tetapi hal yang kita harus baca sangatlah banyak, sampai saya berpikir bahwa kita bisa membuat kelas yang terpisah dari kelas MPKTB yang mengajarkan kita tentang topik tersebut, tetapi mereka tidak melakukan hal itu dan memutuskan bahwa ini adalah tugas yang baik untuk diberikan kepada mahasiswa, untuk membaca dan mengerti hal-hal yang, menurut opini jujur saya, seutuhnya tidak berhubungan dengan masalah-masalah yang kita harus selesaikan seminggu setelah kami telah mempersentasikan semua topik yang kita harus mengerti secara keseluruhan dalam waktu yang singkat (?). Sekalipun hal-hal tersebut berhubungan sedikitpun dengan masalah yang kita harus selesaikan, kita tidak dapat mengerti hal tersebut dan karena kita jelas tidak mengerti tentang hal itu sedikitpun (kita hanya mempresentasikan “versi pincang” topik tersebut, dengan saya gagal secara spektakuler ketika saya harus mempresentasikan bagian saya), kami (seluruh anggota kelompok yang memiliki saya sebagai salah satu anggotanya), memutuskan untuk menggunakan presentasi orang lain (ya, memang ada presentasi yang lengkap tentang topik yang persis sama di internet karena rekan mahasiswa dengan senang hati membagikannya secara daring) dan memodifikasinya sedemikian rupa sehingga kita dapat mempresentasikannya dengan lebih mudah. Tetapi meski telah melakukan itu, saya gagal lagi dan lagi, sampai waktu presentasi saya yang terakhir untuk kelas itu, dimana saya membuat sebuah naskah, mengingatnya dan mengutarakannya di depan penonton, dan meski presentasi saya kurang baik, saya lolos kelas tersebut dan itu baik menurut saya.

But the amount of things you should read is (a lot). So many in fact, you could make a separate class that teaches about those topics, but they did not do that and decided that this would be a good chore to give students, to read and understand things that were, in my honest opinion, completely unrelated to the problems that we were about to solve starting a week after we have presented all the topics that we should have a complete understanding in a short period of time. Even if it did have any relation to the problems that we were supposed to solve, we did not understand it and since we obviously did not understand any of it (we just presented a gimped version of the topic, with me failing spectacularly when it was my turn to present my part), we (the group I’m in), decided to just use other people’s presentations (yes there are complete presentations about the exact same topic on the internet since fellow undergrads are happy to share them online) and just modified them a bit so that we can present it easier. Despite doing that, I failed again and again, until the last one, where I just created a script, memorized it and just say that in front of the audience, and I did not “kill it”, but I passed that class, and that was okay.

Pada semester yang sama, saya juga mengikuti kelas bahasa Inggris, dan tebak apa? Seperti dubur yang keluar dari pantat saya merasa gagal dalam kelas itu juga. Saya mengalami kesulitan dalam hal yang seharusnya dilakukan dalam satu jam, atau bahkan 30 menit, dan itu membuat saya menyelesaikan pekerjaan tersebut dalam waktu yang jauh lebih lama, yaitu sekitar 2 sampai 3 jam. Ada juga presentasi yang harus dipresentasikan di kelas itu dan, ya, saya kurang baik dalam hal itu juga. Anda mungkin bertanya “Tapi Chris, anda mengatakan bahwa anda berpikir dalam bahasa Inggris saat anda masih duduk di bangku SMA, mengapa anda tidak bisa lolos kelas ini dengan mudah?”. Ya, karena saya mencoba mengadaptasikan pikiran saya agar mampu berpikir seperti orang Indonesia, dan karena hal itu, saya sekarang memiliki otak yang mampu berpikir dalam kedua bahasa itu, tetapi tidak sesuai yang saya inginkan.

On that same semester though, I also joined(?) an English Class, and guess what? I was absolute shit at it as well. Not only did it take me two to three hours to do what was supposed to be done in an hour, or even 30 minutes, I literally struggled to do it. There were also presentations to present in that class and, yes you guessed it, I suck at it. You may ask “but Chris, you said that you thought in English back in high school, why can’t you just ace this class?”. Well, that’s because I tried to adapt to the Indonesian way of thinking, and because of that, I now have a gimped mind where I think in both languages, but not how I wanted it to.

Jadi, alasan saya membuat blog ini adalah untuk membantu saya untuk menjadi lebih baik dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Di minggu-minggu selanjutnya saya akan menaruh hal-hal acak? Apa hal itu? Apapun yang saya ingin tulis. Jadi, jika anda ingin melihat hal-hal yang saya tulis, terus pantau blog ini, dan (masukkan pengakhir blog post yang baik disini)

So, the reason I made this blog was to help me to get better at both English and Bahasa Indonesia. In the coming weeks I will be putting some random stuff. What are those “stuff” you ask? I’m going to answer that question with ‘whatever I feel like writing about’. So, if you want to see what those “stuff” are, stay tuned to this blog, and (insert a good ending to a blog post here)

Oh ya, ini adalah pepatah kata dan gambar generik yang diberikan WordPress yang karena saya terlalu malas saya tidak menghapusnya. Selamat menikmati.

Oh yeah, here is a generic quote and picture WordPress has given me that I am too lazy to erase. Enjoy.

Good company in a journey makes the way seem shorter. — Izaak Walton

post

You may see a lot of (?)s in the text, that means that I do not like the way that I wrote it, but I have no idea how to correct it. In the future, I may fix it, but that is unlikely.

Mungkin anda melihat banyak (?) dalam teks, artinya adalah saya tidak suka cara saya menulisnya, tetapi saya tidak tahu cara memperbaikinya. Di masa yang akan datang, saya mungkin akan memperbaikinya.